Bahan Ajar CD Pembelajaran IPA Pokok Bahasan Partikel Materi



Pengembangan Bahan Ajar Berbentuk Compact Disk (CD)  
pada Pembelajaran IPA Pokok Bahasan Partikel Materi
di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Palembang

Oleh Elsy Zuriyani


Deskripsi

Penelitian pengembangan yang dikembangkan Ibu Elsy Zuriyani (Mahasiswa Magister Teknologi Pendidikan Unsri)  ini menghasilkan CD Pembelajaran IPA pokok bahasan partikel materi. Proses pengembangan bahan ajar berbentuk CD Pembelajaran melalui tahap-tahap analisis, desain dan evaluasi.
Kegiatan analisis dimulai dengan mewawancarai guru mata pelajaran IPA dan beberapa siswa kelas VII MTs.N 1 Palembang. Kemudian peneliti menganalisis kurikulurn IPA MTs/SMP yang terdapat dalam Standar Isi.
Tahap desain produk ini akan terbagi dalam dua tahapan, yaitu :
a.  Paper Based
Pokok bahasan partikel materi didesain atau dirancang diatas kertas, baik rancangan berupa teks maupun gambar-gambar.
b.  Computer Based
Desain produk yang telah dibuat dalam paper based dituangkan dalam bentuk computer based. Adapun program yang digunakan untuk desain produk computer based ini adalah microsoft powerpoint dan macromedia flash. Produk yang didesain dalam computer based ini dinamakan prototipe pertama.
Produk yang telah didesain sebagai prototipe pertama yang dikembangkan divalidasi oleh pakar kimia dan pendidikan kimia serta praktisi pendidikan (expert).
a.  Expert dan One-to-one
b. Small Group
c.   Field Test
Setelah diperoleh prototipe ketiga yang valid, praktis, dan mempunyai potensial efek terhadap hasil belajar, selanjutnya prototipe ketiga ini di uji cobakan di lapangan.

Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, tes, dan angket . Hasil observasi menunjukan bahwa aktivitas siswa selama proses pembelajaran telah mencapai 94,02 % atau termasuk kriteria sangat baik. Hasil tes siswa diperoleh nilai rata-rata mencapai 72,50 sudah melampaui standar ketuntasan minimum 66,667 Sedangkan hasil angket menunjukan bahwa penilaian rata-rata siswa terhadap CD Pembelajaran adalah 3,25 termasuk kriteria Baik.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Melalui validasi dan evaluasi oleh para expert dan one-to-one, serta small group maka dihasilkanlah CD Pembelajaran yang dikategorikan valid dan praktis.; (2) Dari hasil analisis hasil belajar pokok bahasan partikel materi diketahui bahwa nilai rata-rata siswa telah mencapai 72,5 dengan kata lain sudah melampaui kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 66,67. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bahan ajar berbentuk CD Pembelajaran mempunyai potensial efek terhadap hasil belajar siswa.

Produk Media CD Pembelajaran dan Laporan Penelitian berupa Tesis dapat diperoleh pada :
1.      Ibu Elsy Zuriyani
2.      Program Studi Magister Teknologi Pendidikan Universitas Sriwijaya Jl. Padang Selasas Bukit Besar Palembang

Perpustakaan Program Pasca Sarjana

PERSPEKTIF NEUROSCIENCE DAN IMPLIKASINYA DALAM PROSES PENDIDIKAN



Otak merupakan pusat dari kegiatan belajar. Manusia memiliki keberbakatan yang jamak yang luar biasa yang membedakannya dengan hewan, meliputi aspek intelektual, moral, sosial, bahasa, dexterity, dan emosi. Bahkan kini ditengarahi bahwa konstelasi otak manusia mampu mencapai puncak spiritualitas yang ditengarahi sebagai gelombang keempat peradaban manusia.  Islam memandang manusia merupakan makhuk sempurna. Dalam Surah al-Tien (95) : 4,  dinyatakan:“Sesungguhnya telah Kami jadikan manusia itu dengan sebaik-baik bentuk” (Alqur'anul Karim, 1994). Keunikan manusia itu ditandai dengan  potensi yang dimiliki oleh manusia yang terdapat dalam dua dimensi, yaitu dimensi material (jasad) dan dimensi immaterial  (nafs, `aql, qalb, dan ruh), sebagaimana dinyatakan dalam Surah al-Sajdah (32): 6-9:
Penemuan neuroscience sangat bermanfaat bagi umat manusia, khususnya bagi dunia pendidikan dalam rangka mencerdaskan bangsa. Dengan memberikan stimulasi-stimulasi pendidikan yang tepat maka akan mencerdaskan otak sehingga tujuan pendidikan nasional yaitu untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab da[at tercapai. Untuk dapat mengimplementasikan teori-teori, paradigma dan perspektif belajar dalam proses pembelajaran, maka guru sebaiknya memahami perspektif neuroscience sebagai salah satu perpektif untuk mengoptimalkan otak dalam belajar. (Winataputra, 2008).

HAKIKAT NEUROSCIENCE


Teori Kerja Otak (neuroscience)  merupakan alur pemrosesan Informasi melalui sistem syaraf. Iinformasi diterima, diolah & direspons. Pendapat lain mengatakan bahwa neuroscience menjelaskan perilaku manusia dari sudut pandang aktivitas yang terjadi di otak. Neurosains merupakan bidang ilmu yang mengkhususkan pada studi saintifik dari sistem syaraf. (Putra, 2009). Beberapa hal yang dipelajari meliputi struktur, fungsi, sejarah evolusi, pengembangan, genetika, biokimia, fisiologi, farmakologi, informatika, komputasi neurosains dan patologi dari sistem syaraf.

Otak dan Perkembangannya


Tony Buzan dalam (Isniatun Munawaroh; Haryanto, 2005) mengatakan bahwa “your brain is like a sleeping giant”. Otak merupakan organ terkompleks dari tubuh manusia. Otak terdiri dari 100 milyaran sel saraf (neuron) yang saling berhubungan, dengan jumlah networking  1000 triliunan synapses (hubungan antara sel-sel saraf). Pada hubungan sel saraf (synapses) terjadi melalui impuls listrik (electrical synapses) dan kimiawi yang berupa neurotransmitter sebagai bahan perantaranya.  Neurotransmitter berperan dalam pengaturan sistem kerja antar neuron, sehingga apabila terjadi gangguan pada neurotransmitter, maka neuron-neuron akan bereaksi abnormal. Lempeng otak (neural plate) dibentuk dari sel-sel embrionik sejak usia kehamilan 15 hari. Selanjutnya ia mengalami perkembangan yang pesat.


Otak kiri dan otak kanan







Gambar  Otak Kiri dan Kanan
Sebutan otak kanan dan otak kiri pertama kali dipopulerkan oleh seorang guru besar dari Universitas Calivornia di era 1950-an, yakni Roger Sperry. Berkat temuannya ini, ia meraih Nobel di bidang otak. Otak kanan memproses irama, kesadaran ruang, imajinasi, melamun, warna, dan dimensi. Sedangkan otak sebelah kiri memproses kata-kata, logika, angka, urutan, linearitas, analisis, dan daftaf. Lebih lanjut, Roger mengemukakan bahwa belahan otak kiri mengukur hal-hal yang bersifat rasional, sedangkan belahan otak kanan mengatur hal-hal yang bersifat ekstra rasional atau secara sederhana bisa disebut sebagai seni dan keindahan. Dengan kata lain, belahan otak kiri berfungsi untuk mengukur hal-hal yang bersifat kuantitatif, sedangkan belahan otak kanan berfungsi untuk mengukur hal-hal yang bsersifat kualitatif.
Jika ditinjau dari segi cara berpikirnya, maka otak kiri berpikir secara urut, parsial, dan logis, sedangkan otak kanan berpikir secara holistik dan kreatif. Adapun jika ditinjau dari sisi cara kerjanya, otak kiri bekerja sebagai analisis (membagi-bagi), sedangkan otak kanan bekerja secara sintesis (menggabungkan hal-hal yang parsial). Jika ditinjau dari sisi kesenangannya, otak kiri lebih senang dengan pertanyaan yang memerlukan jawaban “ya” atau “tidak”, sedangkan otak kanan lebih senang dengan pertanyaan yang memerlukan jawaban beraneka ragam. Dengan kata lain, otak kiri senang dengan pertanyaan yang diawali dengan kalimat pertanyaan, “apakah”, sedangkan otak kanan lebih senang dengan pertanyaan yang diawali dengan kalimat tanya, “mengapa?”, “bagaimana?”, “di mana?” dan lain sebagainya.
Selanjutnya, terdapat satu lagi realitas kinerja otak di samping belahan otak kiri dan kanan, yakni otak tengah atau otak intuitif. Otak intuitif adalah kelanjutan dari otak rasional melalui otak kreatif. Artinya, intuisi akan muncul jika telah melewati “kelelahan” rasionalitas dan “kejenuhan” kreatifitas. Dengan kata lain, intuisi adalah akhir dari perjalanan pemikiran logis dan kreatif. Selanjutnya, hasil kerja otak kiri disebut IQ, hasil kerja otak kanan disebut EQ dan hasil kerja otak tengah disebut SQ (God Spot) atau pengetahuan ma’rifat (MaQ).
Intellectual Quotient (IQ) atau kecerdasan intelektual adalah buah kerja otak kiri yang khas dengan rasionalitas-empiris, linieritas dan silogisme. Buah dari cara berpikir yang demikian menjadikan otak mempunyai IQ tinggi. Sedangkan yang dimaksud dengan Emotional Quotient (EQ) adalah kemampuan untuk menata perasaan, pikiran dan tindakan-tindakan agar sesuai dengan ligkungannya. Adapun yang dimaksud dengan Spiritual Quotient (SQ), merupakan kemampuan yang berhubungan dengan transenden untuk menghadapi persoalan makna hidup atau nilai (value). SQ juga dapat dipahami sebagai kemampuan menempatkan perilaku dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya serta menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dari yang lain.

Otak Triune

Otak dapat di pisahkan menjadi otak atas, tengah dan bawah. Seorang penelitia Dr. Paul MacLean menyebutnya “otak triune”. (Bobbi DePorter; Mike Hernacki, 2003). Otak atas atau korteks menjalankan fungsi intelektual. Otak tengah atau sistem limbic (medula) disebut juga otak mamalia menjalankan fungsi emosi. Sedangkan otak bawah atau otak reptilia menjalankan fungsi refleks. Guru dan pendidik harus mampu menyentuh ketiganya agar bekerjasama secara baik sehingga menyatu (triune).
Gambar  Otak Triune

Faktor yang mempengaruhi perkembangan prenatal otak

Pembentukan otak merupakan perpaduan antara faktor genetik dengan faktor lingkungan. Faktor genetik merupakan faktor internal yang diperoleh dari rekombinasi gen kedua orangtuanya. Faktor lingkungan meliputi semua faktor dari luar diri anak, seperti gizi dan stimulasi. Oleh karena itu, sangat penting bagi ibu hamil untuk mengkonsumsi makanan yang cukup dan bergizi. Kekurangan makanan dan gizi menyebabkan pertumbuhan otak dan badan bayi tidak optimal. Kecukupan kalsium, fosfor dan asam lemak tertentu seperti DHA, Omega-3, dan EPA yang dibutuhkan untuk pertumbuhan sel-sel otak, mempengaruhi pertumbuhannya. Sekarang sudah banyak tersedia makanan dan suplemen yang mengandung zat-zat tersebut di atas sehingga memudahkan para ibu untuk memenuhi kebutuhan gizi anak yang dikandungnya.
Stimulasi dini juga berpengaruh terhadap pembentukan dan pertumbuhan otak. Suara ibu, seperti perkataan, degup jantung, tarikan nafas, bacaan Al Quran, musik, sentuhan dan belaian di perut, yang lembut, memberi stimulasi positif. Stabilitas emosi ibu akan terkait dengan stablitas hormonal juga akan mempengaruhi perkembangan otak. Obat-obatan, kafein, narkoba, alkohol, nikotin, radiasi, teratogen, dan penyakit memberi stimulasi negatif terhadap perkembangan otak. Oleh karena itu ibu hamil harus menjaga emosi dan menjauhi dari makanan dan minuman yang tidak sehat.

Perkembangan Postnatal Otak

Berbeda dengan pertumbuhan fisik, sel syaraf otak tidak bertambah lagi jumlahnya setelah lahir, tetapi pembentukan myelin dan hubungan antar sel syaraf terus berlangsung. Diperkirakan jumlah sel syaraf otak orang dewasa mencapai 100 milyar dan ditambah lebih banyak lagi sel glia sehingga mencapai sekitar satu trilyun sel. Setelah lahir, jumlah hubungan antar sel syaraf otak (sinap) melalui dendrit dan neurit terus bertambah. Satu sel syaraf otak dapat menjalin hubungan dengan, 5, 10, 100 atau bahkan 20.000 sel syaraf otak lainnya. Jadi jika semua sel syaraf rata-rata membentuk 10.000 hubungan. Bisa dibayangkan betapa rumitnya jaringan syaraf otak tersebut. Semakin banyak jumlah hubungan tersebut semakin cerdas otaknya. Jumlah hubungan antar sel syaraf otak tersebut sangat ditentukan oleh stimulasi dan makanan. Selubung mielin (myelin sheath) ini mempengaruhi kecepatan transfer impuls di otak sehingga mempengarui kecepatan berpikir. Oleh karena itu, memberikan stimulasi pada anak sangat penting untuk pertumbuhan hubungan antar sel syaraf otak dan pertumbuhan mielinnya.

IMPLIKASI NEUROSCIENCE DALAM PROSES PENDIDIKAN

Pendidikan itu sendiri mempunyai jejak dalam neurosains, Jejak pendidikan dalam neurosains dapat diamati dalam upaya optimalisasi fungsi otak untuk mencerdaskan peserta didik. Pengembangan lebih lanjut dari jejak ini adalah ekspansi neurosains di bidang pendidikan yang menghasilkan teori-teori pembelajaran quantum. (Suryadi, 2012). Implikasi neuroscience dalam  pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Optimalisasi kecerdasan
Pendidikan sebaiknya mengembangkan kecerdasan melalui stimulasi otak untuk berpikir. Otak yang cerdas antara lain mampu menciptakan sesuatu yang baru, menemukan alternatif yang tak pernah dipikirkan orang, dan mengatasi masalah dengan elegan. Teknik stimulasi otak ini antara lain melalui pendidikan yang divergen dan eksploratif. Metode pengembangan tersebut telah dikembangkan para ahli. De Bono, misalnya, mengembangkan latihan otak yang disebut Lateral thinking; Bruner mengembangkan High Order Tthinking (HOT); Case, mengembangkan Problem solving; Gardner mengembangkan Multiple Intelligences; dan Goleman mengembangkan Emotional Intlligences.
2. Keseimbangan fungsi otak kanan dan kiri
Otak kanan dan otak kiri memiliki fungsi yang berbeda. Oleh karena itu pendidikan hendaknya mengembangkan kedua belahan otak itu secara seimbang. Pembelajaran yang bersifat eksploratori dan divergen, lebih dari satu kemungkinan jawaban benar akan mengembangkan kedua belahan otak tersebut.
3. Keseimbangan otak triune
Pendidikan harus mengembangkan secara seimbang fungsi otak atas, tengah dan bawah (logika, emosi, dan motorik) yang sering disebut juga head, heart, and hands. Hal itu sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
4. Pengembangan motorik tangan
Keterampilan tangan manusia jauh lebih unggul dibanding binatang manapun. Gerak tangan ini dikoordinasikan oleh otak bagian frontal yang berkembang pesat. Koordinasi tangan ini sifatnya berkebalikan, di mana tangan kiri dikendalikan otak bagian kanan. Oleh karena itu tidak selayaknya kita melarang anak menggunakan tangan kirinya karena hal itu justru sedang mengembangkan otak kanannya.
5. Pengembangan kemampuan berbahasa
Kemampuan ini dikontrol oleh pusat bahasa, yaitu pada lobus prefrontal. Oleh karena bahasa dan kognisi saling mendukung, maka kemampuan bahasa perlu dikembangkan sejak dini. Alat-alat tulis berbagai warna dan ukuran, tape dan berbagai suara dan lagu untuk anak-anak, buku-buku bacaan bergambar yang menarik, perlu digunakan.
6. Multiple Intelligences (MI)
Pendidikan harus mempertimbangkan tipe kecerdasan anak tersebut, bakat, dan keinginannya. Guru harus menggunakan berbagai metode, media, dan objek belajar untuk mengembangkan kecerdasan yang beragam.
7. Belajar sepanjang hayat
Otak dapat digunakan sepanjang hayat, bahkan akan terus berkembang kemampuannya jika digunakan. Sebaliknya, otak akan mereduksi dan cepat pikun jika tidak digunakan untuk berpikir. Oleh karena itu, belajar sepanjang hayat merupakan salah satu cara menjaga agar otak terus berfungsi dengan baik.
Dalam pandangan neuroscience, Otak manusia merupakan karunia Tuhan yang amat luar biasa, yang memungkinkan manusia dapat berpikir, memiliki perasaan, dan menggunakan bahasa. Oleh karena itu perlu disyukuri dengan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Perkembangan otak dimulai saat bayi dalam kandungan. Bergai faktor mempengaruhi perkembangan tersebut. Secara umum faktor tersebut ialah faktor genetik dan faktor lingkungan. Setelah lahir, terjadi pembentukan sinap yang mencapai ribuan. Pembentukan sinap ini memungkinkan setiap sel berhubungan dengan banyak sel, sehingga mampu membentuk jaringan yang luas. Pendidikan merupakan bagian terpenting dalam persiapan manusia, mulai dari kanak-kanak (the long childhood) sampai akhir hayat (pendidikan sepanjang hayat). Periode 0-8 tahun merupakan tahun emas (golden age) untuk mengembangkan kecerdasan anak. Oleh karena itu pendidikan usia tersebut perlu mendapat perhatian yang sangat serius untuk mengembangkan kecerdasan. Perasaan senang di sekolah (happy in school), kelas yang demokratis, guru yang menerima anak apa adanya, ramah, dan perhatian dibutuhkan agar anak dapat mengaktualisasikan diri secara optimal. Sebagai pendidik, kita perlu mengimplementasikan neuroscience dalam proses pembelajaran.
Otak kiri dan otak kanan